Wednesday, 26 October 2016

Hello Skripsweet



Hello Skripsweet!
“ Woi udah sampe mana skripsi lo?”
“ Udah SUP?”
“ Kapan Daftar?”
“ Udah ketemu Dospem?” 




Entah kenapa di sela-sela mengerjakan RPP untuk besok. Ada yang lebih menarik untuk saya tuangkan agar tak menjadi beban :P. Wahai Pejuang Skripsi yang berbahagia, sering dengerkan kata-kata di atas? Pertanyaan semacam itu sering sekali terdengar saat ini, agaknya Skripsi menjadi perbincangan hangat pada setiap mahasiswa tingkat Akhir, yah. Entah sudah berapa ratus kata Skripsi diperbincangkan. Dulu sayapun seneng menanyakan hal itu kepada senior yang sedang mengerjakan skripsinya dan saat ini giliran saya yang sering ditanya itu. Baper? Pasti karena rasanya seperti dihimpit pertanyaan yang padahal kitapun masih berjuang. Terkadang untuk menjawab pertanyaan seputar Skripsi, butuh kekuatan untuk senyum sumringah. (Padahal hatinya enggak :P)
Saya rasa setiap kehidupan itu memang selalu regenerasi, dulu mungkin senior saya gerah ditanyakan hal itu dan sekarang giliran saya yang merasakannya Hahahaha. Maka dari itu untuk adik-adik jangan terus meledek yah, nanti akan ada masanya kalian merasakan serangan cinta dari Skripsweet. (Tunggu tanggal mainnya yah :P) Memulai bercinta dengan Skripsweet tampaknya masih menjadi hal yang susah-susah gampang. Skripsweet terkadang cemburu dan meronta jika dinomor duakan. Skripsweet menuntut kekonsistenan agar ia tetap menjadi yang selalu di cinta. Uhuy!
Skripsweet memang cinta yang harus dibuktikan oleh mahasiswa tingkat akhir seperti saya.  Apalah arti banyaknya prestasi jika skripsi saja terbengkalai. Skripsi selain tanda cinta ia juga menjadi bukti untuk membahagiakan orangtua.  Maka dari sekarang mental baja memang harus segera ditanamkan. Fokus menjadi senjata untuk menaklukkan agar skripsi makin sweet dan membuat nyaman. Saya selalu memfavoritkan Surah Arrad ayat 13 yang berbunyi, Allah tidak akan mengubah nasib suau kaum melainkan kaum itu sendiri yang mengubahnya. Maka refleksi dari surah tersebut adalah “Tidak akan Ada Wisuda jika kita hanya berleha-leha”  Yuk Garap Skripsi ! 


Friday, 21 October 2016

DINAMIKA

DINAMIKA

Laksana Hujan yang turun dengan derasnya
Laksana daun-daun gugur yang terhempas udara
Laksana pohon jati merangas di tengah kemarau
Tersisip jiwa yang kian terombang-ambing parau 



Bila diharuskan jatuh, aku ingin jatuh ...
bersama titik air dari langit
Agar tak lagi sakit, agar tak lagi pahit
Bila diharuskan lenyap, aku ingin hilang bersama malam
Meninggalkan jejak senyap pada cahaya yang temaram


Jiwa... kian hari kita tak bersahabat
Membuat Rona semakin pekat
Gejolak dinamika bergemuruh tak terperi
Apa yang kau cari?
Rasanya semua hanya lirih....


Jakarta
21 Oktober di tengah rinai hujan
Palupi

Tuesday, 9 August 2016

Menulis lalu berbagi tanpa henti




Assalamualaikum wr.wb…
Kali ini palupi akan mencoba berbagi pengalaman sekaligus tips menulis tembus media (Versi diriku) hehe…. Kita sepakat kan jika menulis adalah salah satu wadah untuk berbagi dan juga menginspirasi, betul?pendapat ini juga dikuatkan oleh penulis yang menjadi inspirasiku yaitu Mas Pram, beliau bilang : Menulis adalah bekerja untuk keabadian karena dengan tulisan kita akan dikenang. Menulis itu mudah setiap orang bisa menulis dan jika ingin lebih professional harus terus berlatih karena Practice makes perfect kan?
Dalam menulis ada tantangan yang dihadapi penulis yaitu writing block, topik tulisan kurang menarik, kehilangan feel menulis dan lain sebagainya. Nah, sebelum aku berbagi tips menulis versiku, maka aku aku akan berbagi terlebih dahulu pengalaman menulisku. Lets check it out…
Hobi menulisku ini mulai terlihat sejak kelas 3 SD, dulu ada tugas menulis puisi tentang kupu-kupu lalu aku amati kupu-kupu yang ada di halaman sekolah dan aku menulis puisi tentang kupu-kupu tersebut. Keesokan harinya Bu lili, memanggilku. Beliau bilang puisinya sangat bagus. Hingga aku ketagihan menulis puisi sampai dulu aku punya buku kecil yang isinya puisi tapi sekarang buku itu entah dimana, hiks hiks hiks… L
Kegemaranku menulis, terus berlanjut hingga aku SMP dan Alhamdulillah aku bertemu dengan Bu Patria yang menghidupkan kegemaran menulisku. Ia memberikan aku dan teman-temanku tugas 1 tahun menulis dalam Diary ketika aku berada di kelas 7-3. Setiap hari aku menulis di buku Diary, aku ceritakan semua yang aku rasakan di buku tersebut. Menulis diary menjadi hal yang amat menyenangkan bagiku, selain mengasah kemampuan menulis aku merasa kecerdasan emosionalku juga terlatih lewat kegiatan itu.
Di kelas 8 aku sering mengikuti lomba menulis cerpen, berpidato namun.. tak pernah juara. Tapi, lagi-lagi Allah mempertemukan dengan orang yang senantiasa menginspirasiku Beliau adalah Alm. Bu Fauziah, Guru Bahasa Indonesia terbaik yang pernah aku punya. Beliau membaca tulisanku dan menyuruhku mengirim tulisanku ke beberapa media, namun lagi-lagi tulisanku tak kunjung tembus media. Kecewa, ya pasti kecewa hingga kekecewaan ini membuatku berhenti menulis hingga aku SMK kelas 1 aku tak lagi menulis karena malas dan stigma gagal telah tumbuh di otakku kala itu.
Bukan Bu Fauziah namanya, jika ia tak mengobati kekecewaanku. Saat bertemu dengannya ia menyuruhku untuk kembali menulis karena menurutnya “Bakat yang kita punya adalah anugerah kalau belum bisa tembus media, berarti harus terus dicoba, Karena media biasanya menanti tulisan terbaik kita” Ucapnya.
Di awal kelas 2 SMK, kegemaranku menulis kembali melejit. Aku mulai kembali mengikuti lomba puisi, pidato dan juga menulis cerpen dan Alhamdulillah satu persatu piala penyemangat mulai hadir. Aku juga berkesempatan mengikuti pelatihan jurnalistik dan dari pelatihan tersebut aku belajar bagaimana menulis yang baik. Aku mulai yakinkan diriku untuk menulis lagi setelah pulang dari pelatihan, dan saat itu ada kasus yang lagi Booming yaitu kasus Gayus Tambunan. Aku coba menulis puisi, aku cari media-media massa yang menerima karya anak muda dan aku kirimkan Via Fax karena saat itu aku sedang PKL di salah satu perusahaan maka aku meminta izin untuk mengirimkan tulisan menggunakan fax tersebut. Tak lama kemudian salah satu pihak media dari Media Indonesia menghubungiku, mengabarkan bahwa pihak MI tidak menerima puisi namun aku bisa membuat artikel dan mengisi rubrik Move yang saat ini namanya adalah MI Muda.
Senang bukan kepalang, ketika setelah sekian lama akhirnya aku mendapat respon media. Lalu, aku mencoba membuat tulisan yang bisa mengisi Halaman Move dan aku memutuskan untuk membuat Artikel Pembuatan Aneka Gantungan Kunci dari Clay Tepung. Dengan bimbingan bu Puri yang saat itu menjadi guru Seniku di SMKN 9 Jakarta , aku mencoba menulis langkah demi langkah pembuatan kerajinan tangan itu dan mengirimkan email tulisanku kepada Alm Mbak Dian Palupi (Mbak Dipi) Redaktur Halaman Move MI kala itu. Beliau banyak sekali mengajarkanku lewat revisi-revisi yang beliau kirimkan. Alhamdulillah… tulisanku dimuat di media Indonesia atas bimbingannya. Sejak saat itu peluangku terbuka, menulis tembus media bukan lagi impian semata. Benar apa yang dikatakan Alm. Bu Fauziah “ Media akan menerbitkan tulisan terbaik kita, menulis bukan hanya tentang terbitnya tulisan namun tentang kerja keras agar menghasilkan tulisan yang bermakna”
Dan…… saat ini saatnya aku berbagi tips menulis versiku di Media. Untuk dapat menerbitkan tulisan di media massa yang harus kita perhatikan adalah …….
Pertama, Kenali karakteristik media
Setiap media memiliki karakteristik yang berbeda dan kita harus tahu rubrik apa di media tersebut yang menerima tulisan kita. Jangan lupa terus membaca tulisan-tulisan yang terbit di media tersebut sebagai referensi dan berlatihlah menulis.


Kedua, Buatlah kerangka tulisan
Bagi penulis pemula seperti aku, kerangka tulisan itu penting banget. Dari kerangka tulisan kita bisa tau apa yang ingin kita tulis, sampai mana tulisan kita, bagaimana alurnya, apa saja poin pentingnya. Daaaaaaan…. Kerangka tulisan akan membantu kita saat kita mengalami “ Writing block loooh”   
Ketiga, Jangan lupa 5W+1H
            Dalam menulis jangan lupakan 5W + 1 H agar tulisan kita bisa menjadi tulisan yang informatif, inspiratif dan bermakna.
            Keempat, Perhatikan Lead (Kalimat Pembuka)
            Kalimat pembuka, menjadi penentu redaktur akan melirik tulisan kita maka, kalimat pembuka harus menarik. Kita bisa membuat kalimat pembuka menggunakan kata-kata motivasi, menggunakan Jargon, menggunakan kata-kata yang menggugah atau yang mengagetkan seperti “ Bruk!” “ Prang!” dsb.
            Kelima jangan menjadi penulis, pembaca dan editor dalam satu waktu
Satu hal yang sering membuat kita gak selesai-selesai adalah kita menjadi penulis, pembaca dan editor dalam satu waktu yang akhirnya membuat kita bingung dengan tulisan sendiri sehingga kehilangan mood. Hayooo siapa yang sering begini? Hayoo ngaku… hehehe (Saya juga termasuk sering sih hehe. Saat menulis posisikan diri kita sebagai penulis tuangkan apa saja yang ada dipikiran kita. Lalu setelah kelar tulisannya bacalah tulisan kita dan posisikanlah sebagai pembaca. Lalu save tulisan kita buka lagi beberapa saat dan jadilah editor untuk tulisan kita sendiri. Atau kalau ingin nambah ilmu mintalah teman yang juga mahir dalam menulis untuk mengomentari tulisan kita.
Keenam, Jangan lupa baca buku
            Aku percaya kalau tulisan yang kita hasilkan adalah buah dari bacaan kita karena dengan membaca kita bisa mendapatkan kosa kata baru dan juga wawasan yang banyak. Maka kalau ingin tulisan kita semakin baik, jangan lupa membaca yah……
            Ketujuh, Teruslah menulis.
            Sebuah keterampilan harus terus diasah bukan? Begitupula dengan menulis guys. Ibarat pisau tajam kalau gak diasah akan tumpul maka tulisan begitu kalau kita berhenti menulis kita akan kehilangan kemahiran menulis kita. Jadi sudah terbit atau belum tulisannya di media, jangan buat kita patah semangat untuk menulis yah… karena menulis adalah wadah untuk berbagi dan menginspirasi.
Nah, inilah tips dan pengalaman menulis versiku. Semoga bisa bermanfaat yah.. dan memicu semangat untuk terus menulis dan berbagi hehehe. ….. Oh ya satu Quotes untuk menutup tulisan kali ini.  
“ Kata-kata bisa menggugah namun ikatlah ia dengan tulisan agar lebih bermakna”








Saturday, 4 June 2016

Surat cinta untuk Mama



Bagiku...

Tiada yang lebih indah ketika senyum mengembang di wajahmu.

Tiada yang lebih mengharukan ketika perlahan kau mulai menunjukkan keriangan 

 Tiada yang lebih memesona ketika engkau merasa bahagia saat anakmu pulang membawa piala kebanggaan. 

Namun sebaliknya, Ma.... 

Tiada hal yang lebih menyakitkan ketika sakit menderamu 

Ketika tubuhmu terkulai lemas , wajah mulai memucat dan kegelisahan mulai tampak. 

Aku tahu berat bagimu, terus mengonsumsi obat sejak satu tahun lalu. 

Tapi sungguh, Allah maha penyembuh. Allah maha pengasih dan ku yakin Allah begitu menyayangimu..

Mama...

 Maafkan anak perempuanmu yang masih belum bisa merawatmu dengan baik..

Maafkan anak perempuanmu yang masih belum bisa menjadi seperti yang kau mau 

Maafkan anak perempuanmu yang terkadang tak mampu menghapus rasa sakitmu 


Ma... 

Sungguh permintaanku pada Allah saat ini tidaklah muluk, 

hanya memohon kesembuhan agar engkau terus bisa menemani hingga aku tumbuh juga menjadi seorang ibu tangguh sepertimu

Ma, janganlah berputus asa dan berselimut dalam kesedihan karena ku yakin Allah begitu mencintaimu... 

Kelak aku yakin akan ada pelangi di tengah senja yang terus memancarkan warna indahnya...

Kepadamu, kepadaku dan kepada semesta. 

 

 

Dalam Tangis, 

 

Anak Perempuanmu.



Sunday, 8 May 2016

Celoteh Perjalanan Mawapres UNJ Chapter 1


Dilema,  Maju atau Tidak
“ Success is impossible without Hard Work “ Louise Tomlinson
Bismillahirrahmanirrahim dengan nama Allah yang selalu memberi kekuatan pada jiwa manusia, kali ini aku akan berceloteh tentang kisah mawapres yang belum lama ini aku lakoni. Sebuah kisah yang sangat berharga dan aku merasa sayang jika cerita ini hanya tersimpan dalam benak logika. Bermain aksara menjadi media bagiku untuk mencoba berbagi dan terus menebar kebermanfaatan, InsyaAllah. Karena aku percaya sebuah tulisan akan melekat kuat dan lagi-lagi aku percaya apa yang dikatakan Mas Pram tokoh idolaku dalam menulis bahwa menulis adalah bekerja untuk sebuah keabadian. Selamat membaca celoteh aksaraku yah ........
April 2015, aku mengikuti kompetisi debat di Makassar dengan kak Annisa Indriyani yang baru saja merampungkan kompetisi mawapres tingkat fakultas dengan gelar mawapres FIP terfavorit 2015 yang disandangnya. Dia banyak memberikan pelajaran padaku bahwa aku harus bersiap-siap jadi mawapres berikutnya dan dia berharap aku dapat membawa PGSD lebih baik maka mendengar ceritanya tertanamlah dalam logikaku “ InsyaAllah tahun depan, aku siap” gumamku sambil memandang gugusan langit dari jendela pesawat
Aku menuliskan catatan mimpi menjadi mawapres saat itu lalu berimajinasi seolah nantinya berada dipanggung mawapres UNJ dengan membawa nama baik PGSD. Ada sebuah misi yang ingin kujalani. Aku ingin PGSD bisa tembus fakultas dan sebagai pembuktian kampus yang letaknya jauh dari kampus pusat ternyata memiliki banyak mahasiswa-mahasiswa potensial baik dibidang akademik maupun non akademik. 
Januari 2016
Di awal tahun aku coba untuk menyusun resolusi mimpi yang salah satunya adalah menjadi MAWAPRES UNJ. Setiap kali memandang tembok kamarku aku selalu memvisualisasikan dan berharap bahwa semesta akan mendukung impianku untuk direalisasikan. Aku mencoba mencari-cari ide untuk KTI ku nanti dan ditempat KKN aku coba menganalisis apa sebenarnya permasalahan yang terjadi di negeri ini dalam hal pendidikan terutama pendidikan sekolah dasar. Aha! Eureka! Aku tertarik pada issue literasi setelah melihak keadaan sekolah di Desa Jatisari Karawang yang tidak memiliki sarana memadai bagi anak-anak untuk membaca. Akupun mulai menyusun kerangka KTIku secara kasar sambil baca-baca KTI mapresnas yang kulihat dari Mbah Google. Aku semakin tertarik untuk menceburkan diriku keajang ini sambil tak pernah lepas membayangkan wajah orangtuaku yang mungkin akan senang ketika anaknya meraih prestasi. 
Ketika semangatku mulai membara, aku dihadapkan pada takdir yang membuatku putus asa yaitu……………  Tragedi Laptop kesayanganku yang tewas akibat terendam air saat tempat KKNku kebanjiran. Laptop itu benar-benar tak bisa lagi di service semuanya mati total karena Air memang musuh terbesar alat-alat elektronik tak terkecuali Laptop. 
“Allahuakbar…….” Betapa sesaknya aku saat itu, kehilangan laptop kesayangan yang menyimpan banyak sekali hal-hal berharga di hidupku.
Rasanya saat laptop tewas pupus sudah harapanku saat mawapres kala itu, tiada laptop, tiada semangat dan  akupun merasa tidak bisa maju mawapres dan hampir saja merelakan impianku hanya sekedar impian. Mendengar tragedi laptop tewas kak Gia segera menyemangatiku “ Pal, gimana KTI? Duuuuh laptopnya pake kerendem lagi yah ada-ada ajah. Tapi jangan putus semangat yah pal pasti bisa! Masih ada beberapa bulan lagi untuk beli laptop pal, bismillah ada jalan”,ucap kak gia Via Whatsapp.
Aku tak banyak membalasnya bahkan terkadang hanya membalas dengan jawaban“ entahlah” jawaban itu seolah menghantarkanku di titik terlemah. Hingga aku sempat melupakan dan tidak lagi melihat catatan impian mawapresku ditembok kamar.
Sekolah Mawapres  
Walau sudah tidak pernah kulihat namun impian mawapres itu masih saja tak mau pergi dan terus menari dikepalaku walau telah lama takku gubris. Aku memberanikan diri untuk datang ke sekolah mawapres FIP yang waktu itu diisi oleh kak Mira Marini Juara 3 Mahasiswa Berprestasi UNJ dan sekaligus mahasiswa berprestasi terinspiratif 2015 Beliau membawakan materi Public Speaking dan akhirnya beliau berhasil membangunkanku untuk mewujudkan impian menjadi mawapres yang hampir saja aku kubur dalam-dalam. Sepulang dari sekolah mawapres aku bertemu kak Anis yang saat itu menjadi panitianya “ Gimana Pal, persiapannya? Udah berapa persen? “ tanyanya sambil merangkul bahuku seperti biasa. Aku tak menjawab hanya tertunduk malu dan memeluknya sambil terisak “ doakan cepet dapat laptop yah kak”.
Maju, enggak, maju, enggak, maju, enggak, maju, enggak, MAJU!!! Ya aku harus Maju! “ucapku terhadap diriku sendiri.
Seperti mendapatkan bensin yang membakar semangatku, akupun mencari-cari laptop agar aku maju mawapres. Semua group whatsapp dan orang-orang terdekatku aku tanyakan,“adakah yang menjual laptop?”sampai akhirnya ALLAH menjawab kekhawatiranku, lewat kak Rinta kaka kelasku temannya mau menjual laptop dengan harga miring karena laptopnya memang hasil lomba dan memiliki harddisk yang sangat kecil. “Gak apa-apalah yang penting punya laptop” gumamku. Tidak berhenti sampai disitu, Allah semakin menguatkanku. Ketika aku mengunjungi Guru SMPku Bu Sri Hastuti, ternyata beliau sudah mempersiapkan laptop yang menemani perjuangan tesisnya untukku. Beliau juga memberikan tantangan agar kelak aku bisa mengembalikan laptopnya dalam keadaan aku telah sukses. Tantangannya menjadi semangat baru bagiku, menjadi sumber kekuatan untuk kembali membangun Mimpiku.  Betapa senangnya laptop Ibu Sri Hardisknya besar jadi bisa digunakan untuk menyimpan banyak data penelitian dan juga untuk skripsiku kelak Alhamdulillah aku punya dua laptop. Terimakasih ibu ..... Sejak Detik itu………… perjuangan mawapres dimulai !

Monday, 4 April 2016

MERAJUT MIMPI BERSAMA BIDIKMISI




“kemiskinan bukanlah takdir yang terus menghambat kita menapaki dunia, tapi kemiskinan merupakan warna yang selalu membuat kita semangat meraih cita “-Palupi Mutiasih BidikMisi UNJ 2013-
Aku merasa bangga dan tak percaya ketika kata-kata mutiara dalam menggambarkan kemiskinan versi diriku dan kukirimkan ke Twitter @BidikMisiUNJ, menjadi untaian motivasi yang dibuat banner di acara Kampung Bidik Misi Jilid 3 2014. Berhasil mendapatkan Bidikmisi adalah suatu anugerah luar biasa bagi anak dari seorang pembantu dan buruh sepertiku. Dulu, jangankan bermimpi untuk kuliah. Niat melanjutkan pendidikan ke SMA saja harus terkubur karena permintaan orangtua yang menyuruhku ke SMK dengan harapan anaknya ketika lulus langsung bekerja dan memperbaiki ekonomi keluarga.
Beasiswa Bidikmisi seperti lentera bagi ruang gelap yang selama ini mengurungku. Bidikmisi membuat palupi yang dulu hanya seorang pemimpi sekarang menjadi eksekutor untuk mimpi-mimpinya. Berkuliah di kampus hijau yang terkenal dengan motto“Building Future leader” dengan bidikimisi membuatku percaya bahwa tiada keterbatasan bagi manusia yang ingin menembus batas.

Bersama Bidikmisi aku belajar untuk bangkit dari sebuah keterpurukan. Wajah ibu yang kelelahan dalam tidurnya setelah seharian menjajakan jasa bersih-bersih dari rumah ke rumah dan wajah ayah yang pulang dengan noda hitam karena berkeliling memasang cctv menjadi penyemangatku untuk kuliah dengan sungguh-sungguh lalu membawa mereka dalam kehidupan yang lebih cerah. Tikus-tikus yang selalu mengganggu tidur keluargaku setiap malam, menjadi motivasi untuk mengusir mereka dengan membangun rumah yang indah sehingga ada surga yang selama ini didambakan.
Menjadi penerima Bidikmisi UNJ tidak membuatku terlena dengan kenikmatan kuliah gratis dan subsidi setiap bulan yang diberikan pemerintah. Namun, menjadi penerima Bidikmisi merupakan tantangan bagiku. Ada uang rakyat Indonesia yang diamanahkan kepada aku dan beribu-ibu mahasiswa lain yang beruntung mendapat Bidikmisi. Maka berprestasi menjadi harga mati bagi penerima bidikmisi karena menurutku, Prestasi adalah implementasi dari setiap rasa syukur untuk nikmat kuliah dan mendapatkan bidikmisi”
Satu-persatu kesempatanku melebarkan sayap baik di kampus maupun di luar kampus berdatangan seiring doa dan harapan yang kupanjatkan. Tak peduli seberapa berat beban yang ada pada pundakku dengan semangat menggenggam bidikmisi aku memaksimalkan diri untuk mencapai prestasi.
Aku juga bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa mendukungku untuk mengeksekusi mimpi-mimpi yang tertulis di dinding harapan. Memang benar kata pepatah, orang hebat tidak lahir sendirian namun ada orang-orang dibalik layar yang menjadi faktor keberhasilan mereka menggapai puncak kesuksesan.
Di tingkat pertama kuliah, aku mendapat kesempatan menjadi delegasi UNJ dalam acara kepemudaan di Wakatobi dan terpilih menjadi Duta Pariwisata Wakatobi 2014-2016. Di Pulau yang terkenal dengan nirwana bawah lautnya, aku bertemu dengan puluhan mahasiswa hebat dari seluruh nusantara. Ada Fanbul mahasiswa UII jogja dengan jiwa sosialnya yang sekarang menjadi manager hipwee community, ada Isnawati Hidayah mahasiswa Malang dengan kecerdasan intelektualnya yang terpilih menjadi Finalis Mahasiswa Berprestasi Nasional 2015, Ada Shinta yang saat ini menjadi Ambassador Hipwee malang dengan projek sosial yang memukau, Ada Panji Aziz mahasiswa UNPAD dan juga Founder Istana Belajar Anak Banten (ISBANBAN) yang tahun 2015 yang lalu terpilih menjadi pemuda intership ke Amerika melalui YSEALI Program, Ada Esha Saratoga mahasiswa UNDIP dengan segala prestasi organisasi kelautannya dan masih banyak lagi mahasiswa lain yang begitu menginspirasi.
Mereka mengubah paradigma berpikirku menjadi Out of the Box dan memacuku untuk terus mengukir prestasi. Sejak saat itu, di atas pesawat yang baru pertama kali kunaiki aku melukiskan harapan-harapan yang akan membawaku terbang lebih tinggi lalu meninggalkan jejak di awan dengan segudang inspirasi. “Terimakasih Allah telah menguatkan dan memberikan berkah sehingga aku melangkah sejauh ini, semoga Engkau terus membersamai hingga aku menjadi kupu-kupu dengan kepakan sayap indah yang memesona pasang mata” gumamku sambil memandang gugusan awan dilangit Wakatobi menuju Jakarta. 
          Energi positif yang kudapatkan di Wakatobi begitu kuat sehingga menjalar ke dalam alam bawah sadar yang membuat aku kecanduan berkompetisi. Kekuatan motivasi itu menghantarkanku menjemput prestasi yang lainnya. Menjadi Wakil 1 None Buku Jakarta Pusat 2014, menjadi Juara 2 Lomba Debat pendidikan Nasional di Makassar, menjadi pembicara dalam event-event nasional, mendapatkan IP 4 selama dua semester, menjadi juri dalam beberapa kesempatan serta berhasil menembuskan tulisan-tulisan ke media massa adalah sebagian kisah indah yang menjadi torehan prestasi penuh makna. Catatan prestasi itu menjadi pelipur lara saat kelelahan menggelayuti raga dan menjadi avtur yang siap membawaku menghidupkan mesin untuk mengudara.
Bukan hidup namanya jika aku terus berada dalam zona nyaman. Tidak akan indah sebuah catatan perjalan jika tidak menghasilkan Spektrum Warna dari setiap masalah yang ada. Akhir April Mei 2015, Tuhan yang Maha Kuasa memberikan aku ujian disaat aku nyaman dengan kehidupan kuliah dengan segala prestasi yang ada. Menjelang ulang tahun ibu ke 41,aku mendapati beliau dalam keadaan lemas tak berdaya di rumah ketika aku pulang kuliah.
Di tengah malam yang mencekam, kedatangan ayah disambut oleh kondisi ibu yang semakin parah Ayah memutuskan membawa ibuku ke rumah sakit. Seperti menelan pil pahit aku dan keluarga harus menerima kenyataan dengan kondisi ibu yang baru, Ibu yang saat ini masih meminum obat dan berjuang untuk sembuh.
Lorong rumah sakit kala itu, menjadi saksi tertorehnya duka yang memberikan pekat dalam bingkai cerita. Ada banyak airmata yang tumpah dengan isak yang tak mampu lagi tertahan dalam dada. 2 Mei 2015 menjadi pertama kalinya ibu merayakan ulang tahun di rumah sakit. Dalam kondisi setengah sadar setelah mendapatkan obat dan penanganan yang baik dari dokter, kubisikkan dengan penuh cinta di telinganya “Selamat Ulang Tahun mamah, semoga Allah merahmatimu dan dijadikan sakitmu sebagai penggugur dosa”

Seminggu lamanya aku dan ayah berada di rumah sakit itu. Aku belajar banyak hal atas kejadian yang menimpa ibu. Aku belajar bahwa aku harus lebih berjuang demi memberikan kehidupan bahagia untuk ibu. Aku belajar untuk selalu memberikan senyum terindah bagi ayah yang tak pernah berputus asa. Aku juga belajar untuk tidak menyerah pada keadaan yang ada karena ketika kita semakin menyerah hidup malah semakin menggerus tubuh tanpa daya. Satu pekan meninggalkan kuliah, aku bersama adikku harus pulang ke Jakarta. Dengan berat hati aku meninggalkan ibu dan Ayah di Banyumas beserta keluarga di sana. Sebelum pulang aku berpamitan dengan Ibu yang semakin hari perkembangannya semakin baik.
“ Mah, upi pulang dulu yah.. cepet sembuh mah,” ucapku sambil memeluknya
“Apip juga pulang dulu yah mah, ntar apip doain mamah tiap sholat, mamah kuat yah mah,”timpal adikku tak mau kalah.
Ibuku hanya tersenyum tanpa kata sambil menggerakkan kelopak mata seolah memberi isyarat tak ingin melihat aku dan adikku pulang ke Jakarta. Setelah berpamitan dengan Ibu, aku berpamitan dengan ayah. Kupeluk tubuh hangat penuh cinta yang mengajarkanku arti kesabaran.
Dengan diantar oleh paman, aku dan adikku pulang ke Jakarta untuk melanjutkan sekolah. Dalam perjalanan tak ada yang mengisi logikaku selain harapan untuk kesembuhan ibunda. “Allah, Semoga Engkau menyembuhkan mamah untuk bisa bersama kami lagi,” gumamku penuh harap. Sesampainya di Jakarta, ada kabar bahagia di tengah duka yang melanda. Aku lolos menjadi “Cikgu” untuk anak-anak TKI di Sarawak, Malaysia. Namun, keberhasilanku saat ini kurasakan tidak seperti biasanya. Aku dilanda dilema dengan kondisi ibu yang masih butuh perhatian.
Aku berkonsultasi dengan Arfi, seseorang yang telah bersamaku dan kutemui menjadi rival lomba cerdas cermat di TVRI sejak tujuh tahun lalu. Dia orang yang selama ini, menyemangati ketika mimpiku terhenti kuliah di tahun 2012 karena gagal tembus PTN. Dia juga orang yang menjadi pendorong agar aku bisa menggapai prestasi untuk menginjakkan kaki di Luar Negeri.
Via Skype aku menghubungi arfi yang sedang di Turkey. Kuceritakan tentang kelolosanku dalam program VTIC dan dengan nadanya yang khas iya menyemangatiku “ Aku tahu kamu sedih atas kondisi mamahmu, tapi bukan berarti mimpimu harus terhenti. Berjuanglah minta izin padanya nanti setelah kondisi membaik. Niatkan prestasi kamu menjadi obat bahagia untuk mamah,”nasihatnya. 


Tiga minggu dirawat di rumah sakit, mamah kembali ke Jakarta Alhamdulillah beliau mengizinkanku pergi ke Malaysia untuk mengajar anak TKI sebulan lamanya. Hidup memang penuh teka-teki setiap harinya. Dengan cobaan aku belajar bahwa sedih dan senang datang beriringan.  Kali ini, Maret 2 2016 menjadi kejutan bagiku. Aku terpilih menjadi mahasiswa berprestasi tingkat Jurusan. Kejutan ini membuatku semakin percaya bahwa cobaan dariNya melatihku untuk memiliki kekuatan baja. Alhamdulillah setelah melalui perjuangan yang cukup terjal, Allah menakdirkan aku menjadi juara 1 Mahasiswa Berprestasi FIP (nantikan kelanjutan kisah Berjuang di Mawapres FIP yah )